'Bulan biru' ini akan dieksplorasi dengan Slooh Space Camera. "Blue Moon dan Slooh yang akan melakukan eksplorasi memang langka. Namun tidak selangka seperti keberanian dan talenta mendiang Neil Armstrong, manusia pertama yang menginjakkan kaki di tetangga terdekatnya," kata Bob Berman, astronom yang juga editor Slooh, dikutip dari Space.com.
Terakhir kali, 'bulan biru' itu muncul pada bulan Maret 2010, atau tepat 30 bulan lalu. Mengenai warna biru yang terjadi di bulan, itu disebabkan debu di atmosfer yang menghalangi pandangan warna manusia ke bulan. Bahkan setelah Krakatau meletus pada 1883, sisa debunya disebut menyebabkan warna bulan terlihat biru selama dua tahun.
Tapi perhitungan kemunculan blue moon sendiri tidak mengacu pada warna, melainkan mengacu pada dua purnama penuh dalam satu bulan. Atau ada juga yang menghitung berdasarkan purnama ketiga dari empat purnama yang berlangsung di satu musim.
Definisi 'bulan biru' sendiri di bidang astronomi pertama kali muncul di 1946. Saat itu pengamat astronomi James Pruett membaca sebuah frase di Maine Farmers' Almanac. Bulan itu didefinisi sebagai purnama ketiga di suatu musim dari empat purnama yang ada. Pruett salah menginterpretasi itu sebagai dua purnama di suatu bulan.
Tapi ada catatan lain mengenai istilah blue moon, yaitu untuk merujuk sesuatu yang jarang terjadi tapi dianggap benar. Mengutip Guardian, istilah ini mengacu pada suatu akta religi di tahun 1524, yang menyebut: "If they say the moon is belewe. We must believe that is true".
"Jika mereka mengatakan bulan itu mendua. Kita harus percaya bahwa itu benar".
Karena itu banyak juga yang menyebut peristiwa itu sebagai "belewe moon" atau bulan yang mendua.
Sumber :
Blue Moon Bikin Gila?
VIVAnews - Selama ini, kondisi psikologi manusia seringkali dikaitkan dengan bulan, terutama purnama. Istilah "lunatic" yang berarti edan, dianggap berasal dari kata "luna" yang berarti bulan.
Muncul pula berbagai mitos mengenai purnama. Salah satunya adalah mitos werewolves, atau manusia-serigala yang berubah bentuk tiap purnama.
Tak heran jika fenomena blue moon pun dikaitkan kegilaan. Dengan adanya dua purnama di satu bulan saat blue moon terjadi, tentu makin banyak mitos tentang kegilaan manusia muncul. Itu sebabnya ada perilaku kuno yang melarang keluar rumah saat fenomena blue moon berlangsung.
Tapi kegilaan terkait blue moon ternyata hanyalah mitos. Mengutip laman Livescience, pada tahun 1996 ilmuwan mempelajari sejarah lebih dari 150.000 kunjungan ke unit gawat darurat di rumah sakit pinggiran kota. Ilmuwan ini menemukan tidak ada perbedaan antara malam purnama dengan malam lainnya.
Sejumlah studi pun gagal menemukan hubungan antara purnama dengan pertambahan pasien akibat gangguan jiwa, juga tak terbukti ada peningkatan kambuhnya penderita epilepsi.
Tapi jika purnama tidak memengaruhi manusia, bagaimana dengan hewan? Di tahun 2007, ada studi dimuat "Journal of the American Veterinary Medical Association". Disebutkan adanya peningkatan jumlah pasien di rumah sakit hewan di Colorado State University, saat purnama.
Persentase potensi kucing ke rumah sakit hewan saat purnama mencapai 23 persen, sedangkan anjing mencapai 28 persen. Tapi para ilmuwan ini tidak menemukan penyebabnya.
Ilmuwan menduga, saat purnama banyak manusia yang melakukan aktivitas di luar rumah. Ini menyebabkan peliharaan mereka tidak dalam kondisi terjaga, karena itu jumlah pasien di rumah sakit hewan meningkat saat purnama.
Tapi ada penelitian lain yang cukup menarik. Dalam sebuah publikasi di "British Medical Journal" pada Desember 2000, pada sebuah UGD di Inggris Raya diketahui jumlah pasien akibat gigitan hewan meningkat saat purnama berlangsung. Uniknya, jurnal itu juga menulis pada saat yang sama tidak ada kasus gigitan hewan saat purnama di Australia.
Tak heran jika fenomena blue moon pun dikaitkan kegilaan. Dengan adanya dua purnama di satu bulan saat blue moon terjadi, tentu makin banyak mitos tentang kegilaan manusia muncul. Itu sebabnya ada perilaku kuno yang melarang keluar rumah saat fenomena blue moon berlangsung.
Tapi kegilaan terkait blue moon ternyata hanyalah mitos. Mengutip laman Livescience, pada tahun 1996 ilmuwan mempelajari sejarah lebih dari 150.000 kunjungan ke unit gawat darurat di rumah sakit pinggiran kota. Ilmuwan ini menemukan tidak ada perbedaan antara malam purnama dengan malam lainnya.
Sejumlah studi pun gagal menemukan hubungan antara purnama dengan pertambahan pasien akibat gangguan jiwa, juga tak terbukti ada peningkatan kambuhnya penderita epilepsi.
Tapi jika purnama tidak memengaruhi manusia, bagaimana dengan hewan? Di tahun 2007, ada studi dimuat "Journal of the American Veterinary Medical Association". Disebutkan adanya peningkatan jumlah pasien di rumah sakit hewan di Colorado State University, saat purnama.
Persentase potensi kucing ke rumah sakit hewan saat purnama mencapai 23 persen, sedangkan anjing mencapai 28 persen. Tapi para ilmuwan ini tidak menemukan penyebabnya.
Ilmuwan menduga, saat purnama banyak manusia yang melakukan aktivitas di luar rumah. Ini menyebabkan peliharaan mereka tidak dalam kondisi terjaga, karena itu jumlah pasien di rumah sakit hewan meningkat saat purnama.
Tapi ada penelitian lain yang cukup menarik. Dalam sebuah publikasi di "British Medical Journal" pada Desember 2000, pada sebuah UGD di Inggris Raya diketahui jumlah pasien akibat gigitan hewan meningkat saat purnama berlangsung. Uniknya, jurnal itu juga menulis pada saat yang sama tidak ada kasus gigitan hewan saat purnama di Australia.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar